12 September 2019

Kembali


Melalui doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus sendiri kita bisa mengetahui tujuan Allah yaitu supaya namaNya dikuduskan. Nama Allah dimuliakan melalui Kerajaan Allah yang lahir dan ditegakkan dimuka bumi. Dan cara Allah melahirkan dan menegakkan Kerajaan Allah di bumi adalah melalui GerejaNya yang menangkap dan melakukan kehendak Surga.

Gereja yang Yesus dirikan di muka bumi adalah Gereja yang telah diberikan Otoritas dan Kuasa Kerajaan untuk melakukan tugasnya mewakili Kerajaan Allah menetapkan / menyatakan seseorang / sesuatu tidak lagi terikat atas ikatan iblis yang bersifat legal. Ketika Gereja aktif, bergerak mewujudnyatakannya maka ada janji dan jaminan bahwa kuasa kegelapan tidak akan pernah bisa menang melawan (Mat 16:18-19)

Contoh jemaat / Gereja di Perjanjian Baru yang menyadari dan bergerak dalam kuasa Kerajaan adalah jemaat di Efesus, yang tercatat di Kisah Para Rasul 19. Jemaat Efesus begitu dahsyat dampaknya sampai seluruh penduduk Asia mendengar Injil. Tanda mujizatpun terjadi bahkan sapu tangan Paulus jika diletakkan atas orang-orang sakit maka kesembuhan terjadi. Tak hanya itu, takut akan Tuhan begitu kuat sehingga masyarakat bertobat di tempat umum, sistem perekonomian dan sistem kepercayaan serta pengaruh kuasa jahat atas kota itupun tergoncang, dengan kata lain Gereja mulai pegang kendali atas alam roh di kota tersebut.  Bukankah dampak seperti itu yang kita rindukan Gereja selama ini? Mari kita gali apa yang bisa kita terapkan untuk membawa 

Gereja meraih puncak potensinya?
1.          Kembali pada panggilan Gereja : Keintiman. Miliki hati yang mengenali dimana Tuhan berada, apa yang Tuhan sedang kerjakan di musim / generasi ini dan hati yang mudah dibentuk serta rela meninggalkan kenyamanan untuk mengikuti langkah Tuhan (Kis 19 : 2-6). 
2.         Kembali pada Pesan Utama Injil : Kerajaan Allah (ay. 8). Kotbah Yesus pertama, berita pelayanan dan pesanNya selama 40 hari setelah kebangkitan dan fokus pengajaran Paulus adalah mengenai Kerajaan Allah.
3.        Kembali pada Fokus dari Amanat Agung : Murid (ay. 9a). Sebagian besar waktu pelayanan Yesus adalah bersama murid. Inti dari amanat agung adalah memberitakan Injil dan menjadikan murid. Paulus mengerti hal ini dengan memfokuskan diri hanya pada mereka yang mau jadi murid.
4.         Kembali pada Cara Allah : Berbagi Hidup (ay. 9b-10). Paulus bukan hanya berkotbah, menjadi pembicara. Tetapi Paulus berbagi hidup selama 2 tahun.
Roh Kuduslah tokoh utama di kitab para rasul, Roh Kudus adalah Penolong dan Roh Kebenaran yang akan membawa Gereja pada seluruh kebenaran. Ini saatnya Gereja kembali dipenuhi Roh Kudus & bergerak dipimpin Roh Kudus seperti di Kis 4 : 31, kepenuhan Roh Kudus yang membawa Gereja berdampak bagi dunia. Amen !

PEMBANGUNAN IMAN DI GKI SW JATENG ? - Pdt. Bonnie Andreas


Kilas Sejarah

Departemen Pembinaan BPMS GKI Jawa Tengah, tahun 1994 menerbitkan sebuah buku berjudul Pola Dasar Pendidikan – Pembinaan Dalam Rangka Pembangunan Jemaat Gereja Kristen Indonesia Jateng. Buku ini digagas oleh 20-an peserta Pertemuan Studi dan Lokakarya tentang Pembinaan Jemaat. Isinya adalah penjelasan pentingnya pembinaan kategorial.

Pembinaan iman – pendidikan iman Kristen, adalah proses belajar yang berkesinambungan. Pendidikan ini berlangsung dari anak sampai usia lanjut. Meski dalam buku ini digagas pelayanan yang tersegmentasi, namun ditegaskan bahwa pelayanan kategorial dari beragam kategori itu bergerak bersama sebagai sebuah kesatuan.

Dasar dari pendidikan iman ini adalah psikologi perkembangan yang dipahami sebagai sebuah alur yang bergerak maju. Tujuannya adalah menolong seseorang – umat – untuk mengalami peningkatan dari tahap satu (lebih rendah) ke tahap berikutnya yang lebih tinggi. Beberapa teori perkembangan yang menjadi dasar pembangunan pelayanan kategorial GKI SW Jateng adalah:

1.       Psikososial
Erikson menyatakan bahwa manusia memiliki delapan tahap perkembangan. Namun semua tahap perkembangan diri itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan (sosial) seseorang. Dalam pengamatannya, Erikson memahami bahwa meskipun seseorang tidak berhasil baik dalam malampaui suatu tahap, hal itu dapat disempurnakan di tahap berikutnya. Adapun tahapan perkembangan psikososial itu adalah:
a.       Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar (0-2 tahun)
Bayi belajar mempercayakan diri pada lingkungan. Kepercayaan bergantung pada rasa aman yang ditimbulkan oleh lingkungannya.
b.      Otonomi vs Rasa Malu/Bimbang (2-4 tahun)
Pengendalian tubuh (diri) anak melahirkan rasa percaya diri akan kemampuannya.
c.       Inisiatif vs Rasa Bersalah (4-5 tahun)
Apresiasi dan respon positif melahirkan inisiatif yang baik, sebaliknya cercaan akan menghambat perkembangan karena dipengaruhi rasa bersalah
d.      Produktifitas vs Rendah Diri (6-11 tahun)
Apresiasi dan respon positif akan menolong anak semakin produktif
e.      Identitas vs Kebingungan Peran (12-18 tahun)
Peran-peran dipelajari pada tahap sebelumnya. Pada masa remaja mereka mulai membangun identitas dalam peran-peran yang mereka pilih dan jalani. Bila mereka berhasil dengan baik mengenali peran dan membentuknya dalam identitas, mereka akan memasuki tahap selanjutnya dengan lebih baik. Sebaliknya, bila mereka gagal, mereka akan mengalami krisis identitas yang berlanjut ke masa dewasa.
f.        Keintiman vs Isolasi (19-30 tahun)
Identitas diri yang terbangun sebelumnya, menolong seseorang untuk dapat berbagi peran dalam keintiman dengan orang lain (termasuk lawan jenis). Perasaan terisolasi atau tersingkirkan biasanya muncul karena kebingungan peran di tahap sebelumnya.


g.       Generatifitas vs Stagnasi (31-55 tahun)
Dalam masa ini, keinginan untuk berkarya maksimal sangat tinggi. Seseorang mulai belajar memimpin dan mengatur serta memelihara.
h.      Keutuhan vs Keputusasaan (55 tahun ke atas)
Kepuasan pada masa sebelumnya menolongnya merasa tenang dan utuh di masa tua.

2.       Kognitif
Jean Piaget menggagas tahapan perkembangan kognitif dengan ‘menekankan pada kesiapan seseorang untuk siap mengakomodasi dan asimilasi’ terhadap perubahan pemahaman yang terus terjadi dalam hidup.
a.       Tahap Sensorimotoris (0-2 tahun)
Bayi dianggap belum bisa berpikir. Ia hanya menuruti perasaan (bukan kognisi). Pembelajaran pada bayi berkaitan hanya dengan tubuh dan perasaan saja
b.      Tahap Pra-Operation (2-7 tahun)
Anak kecil mulai dapat berpikir hanya dikuasai oleh intuisi dan khayalan. Mereka belum dapat berpikir sistematis (melompat-lompat dan seenaknya)
c.       Tahap Operasi Konkrit (7-11 tahun)
Anak yang lebih besar mulai dapat berpikir logis tetapi hanya berdasar pada obyek yang konkret (bukan abstrak)
d.      Tahap Operasi Formal (11 tahun ke atas)
Di tahap ini, seseorang dapat berpikir logis, sistematis, abstrak, dan mampu berhipotesis

3.       Moral
Kohlberg memberikan tahapan perkembangan berdasarkan pengambilan kepitusan moral. Usia tidak selalu selaras dengan tingginya tahapan moral seseorang. Tahapannya, menurutnya, hanya dapat dimulai diukur pada seseorang mulai 4 tahun ke atas karena bayi dianggap belum dapat memutuskan.
a.       Pra Konvensional (4-10 tahun)
                                                               i.      Kepatuhan (menghindari hukuman fisik)
                                                             ii.      Kepuasan diri (mendapat hadiah)
b.      Konvensional (10-13 tahun)
                                                               i.      Anak baik (menyelaraskan dengan lingkungannya)
                                                             ii.      Hukum dan Peraturan (kewajiban)
c.       Post Konvensional (tidak semua orang masuk dalam tahap ini)
                                                               i.      Konsensus Umum (keputusan moral berdasar standar umum dan penghormatan pada hak-hak individu
                                                             ii.      Etis Universal (hak azasi dan martabat serta kebahagiaan seseorang menjadi dasar pengambilan keputusan etis, bukan mempertimbangkan usia, dsb)

4.       Iman
Fowler menggagas teori tentang bagaimana kepercayaan itu berkembang dalam hidup seseorang.
a.       Undifferentiated Faith (0-2 tahun)
Bayi menerima semua nilai dari lingkungan tanpa mampu membedakan karena kesadarannya belum terbentuk
b.      Intuitif-Proyektif (2-6 tahun)
Pada tahap ini seseorang mulai mempelajari dunia dengan imajinasinya. Kepercayaannya berkait dengan imajinasinya. Ia berimajinasi tokoh panutan adalah seseorang yang selalu dapat dipercaya.
c.       Mitis Literal (7-11 tahun)
Seseorang mulai mengidentifikasikan diri pada kelompok agama tertentu dan menghidupi nilai yang diterimanya.
d.      Sintesis Konvensional (12-19 tahun)
Seseorang mulai berpikir kritis dan tidak begitu saja mempercayainya. Dalam mencari identitas diri, ia mulai memilih mana yang ia layak dan tidak layak untuk dipercayai
e.      Individuatif Reflektif
Tahap ini tidak terbatas usia, pada tahap ini seseorang benar benar mandiri memikirkan apa yang dia percaya tanpa terbatas pada pemikiran kelompok atau lingkungannya
f.        Konjungtif
Pada tahap ini seseorang mulai dapat melihat kepercayaan yang berbeda dan menerimanya.
g.       Universal
Pada tahap ini, kepercayaannya diyakini adalah sesuatu yang universal, baik bagi semua, dan tidak terbantahkan secara umum. Hanya sedikit yang mencapai taraf ini karena kepercayaannya pada nilai universal menolongnya untuk mampu melihat kemanusiaan dan ke-Tuhan-an secara luas dan jernih.

Belajar Dari Sejarah

Kita telah menghidupi pembinaan kategorial ini sejak lama, bahkan sebelum buku tentang ini diterbitkan. Pada tahun 1940 an dan pasca Perang Dunia II, organisasi parachurch memikirkan betul pembinaan bagi kategori usia muda. Hal ini mendorong perkembangan yang signifikan munculnya pembinaan kategorial.

Pola pembinaan kategorial berhasilkah? Is the Era of Age Segmentation Over? Memang bisa saja seseorang mengklaim pembinaan kategorial berhasil dalam sisi tertentu, misalkan pembinaan kognisi (pikiran). Namun kenyataannya, Rainer Research memperkirakan 70 persen generasi muda meninggalkan gereja di usia 22 tahun. Barna Group memprediksi bahwa hal ini akan bertambah menjadi 80 persen di usia 30 tahun. Kenyataan ini sedikit banyak membuktikan bahwa upaya pembinaan ini dirasa kurang relevan lagi mempertahankan seseorang ‘merasa at home’ di gereja.

Lihatlah dalam 3 tahun terakhir Persidangan Majelis Sinode Wilayah GKI SW Jateng membicarakan tentang kepemudaan yang hilang. Saling menyalahkan? Ya. Terpenjara dengan kategori, alih-alih memikirkan bersama sebuah terobosan teologi baru, generasi kategori tua dan generasi muda saling menuding. Generasi tua menganggap generasi muda gagal, generasi muda menganggap generasi tua tidak memberi ruang. Dan anehnya, upaya perubahannya masih menggunakan pola segmented. Membuat grup muda, kebaktian muda, persekutuan muda, dan sebagainya? Benarkah anak muda mau dikelompokkan?

Apa ekses buruk dari pelayanan kategorial?
a.       Kesamaan
Basis dari pelayanan kategorial adalah adanya kesamaan. Sama usia, sama minat, dsb. Kesamaan ini menjemukan bukan? Pendidikan model ini menciptakan ingruoup dan outgroup. Pembinaan yang memisahkan, alih-alih mempersatukan.
b.      Kurang memperhatikan keragaman spiritualitas
Selain soal perkembangan psikologis, ada juga keragaman spiritual. Tengoklah 9 corak spiritualitas. Kelompok yang terbiasa dengan kesamaan akan mengalami dorongan untuk terus membangun kesamaan yang lain. Bisa jadi kesamaan corak spiritualitas ini juga adalah seleksi alam yang muncul dan dibangun dalam kelompok usia itu. Misalkan pemuda, bercorak antusias sedang lansia tradisonal, yang kemudian tanpa perjumpaan menjadi pertentangan yang semakin memisahkan umat dalam gereja, bahkan dalam keluarga.
c.       Mengabaikan faktor keteladanan lingkungan
Semua teori perkembangan itu mendasarkan diri pada lingkungan. Namun dengan mengumpulkan orang yang sama, pendidikan iman dalam perjumpaan tidak tercapai. Sebagai contoh, seseorang yang berada pada tahap awal akan melihat orang yang sama. Padahal perkembangan dapat berjalan jauh lebih baik ketika muncul pembelajaran dengan berjumpa dengan orang di tahap yang berbeda. Sekaligus orang yang sudah ditahap lebih tinggi (bahasa saja, bukan bermaksud hirarkis), bisa menyempurnakan tahap sebelumnya dalam perjumpaan.

Bukan hanya itu, keteladanan dalam kurikulum tersembunyi juga tidak hidup tanpa keteladanan. Misalkan, anak dicekoki dengan kognisi, tetapi afeksinya tidak tumbuh karena mereka berjumpa dengan kenyataan yang berbeda. Mereka diajarkan untuk tidak berbohong tetapi perjumpaan dengan usia lain penuh kebohongan. Mereka diajarkan komunikatif, tetapi perjumpaan di gereja penuh dengan semangat dominasi. Mereka diajarkan bersih, tetapi gereja kumuh. Mereka diajarkan tepat waktu, tetapi banyak warga gereja terlambat. Kurikulum yang diajarkan tidak selaras dengan kenyataan (kurikulum tersembunyi).

Dengan mengalami bersama (intergenerasi dan multigenerasi), semua akan belajar bukan hanya mencipta kurikulum pembinaan yang ditulis seabreg-abreg tetapi menghidupnya sebagai keteladanan dan kurikulum tersembunyi.

Keteladanan ini juga penting, mengingat soal pembiasaan bersama menghidupi nilai. Meski anak secara kognisi lemah, anak akan belajar meniru (mimesis) hal baik (meski juga hal buruk) dalam perjumpaan bersama. Pembiasaan ini disebut juga habituasi. Seorang rekan berkata, tak masalah pembinaan itu bersama meski anak tidak tahu. Toh anak akan menyukai susu yang mereka tidak tahu untuk apa susu itu? Akhirnya mereka tahu itu hal baik dan tetap akan mengikutinya, bukan?

Pendekatan kognisi juga tidak sepenuhnya efektif. Mengapa? Siapa yang ingat khotbah tiga minggu lalu? Bukankah yang teringat biasanya hanya pada contoh-contoh yang relevan? Keteladanan hidup bersama dalam perjumpaan, jauh lebih terserap ketimbang pendekatan kognisi. Anak tahu bagaimana bersikap hormat pada Tuhan melalui teladan, bukan? Tidak menyalakan nada dering diketahui karena adanya pembelajaran bersama (bahkan melalui pengalaman memalukan), bukan?
d.      Menyuburkan Pemahaman ‘Pengganggu’
Keberadaan anak-anak (meski di abad ke-18 dan ke-19 mereka bersama dengan baik dalam gereja dengan orang tua) sekarang dianggap pengganggu kekhidmatan ibadah. Keberadaan orang tua di kelompok muda dianggap sebagai pembuat tidak nyaman. Mengapa ini terjadi? Ya karena munculnya eksklusifisme kategori. Alhasil, ini akan semakin menumbuhkan gereja dalam gereja. Bukankah anak-anak pada fitrahnya memang ramai? Kalau mereka diam, bukankah orang tua was-was dan menduga dia sakit? Apakah orang tua tidak bisa belajar bersama? Bukankah orang tua yang ingin mencapai tahap tertinggi seperti kategori di atas harus belajar tetap merasakan indahnya kebaktian bersama anak-anak yang riuh?
e.      Mendidik Calon Anggota Gereja Lain
Hal yang menyedihkan adalah adaptasi dengan pola-pola tertentu dari komunitas lain. Anak sekolah minggu tidak terbiasa dengan liturgi GKI. Remaja pemuda juga demikian. Saat masuk ke umum mereka kaget dan merasa tidak nyaman karena selama belasan tahun mereka beribadah dengan cara yang berbeda. Bukan hanya itu, mereka terbiasa dengan orang yang sama. Saat beralih ke umum, mereka bertemu dengan orang yang berbeda. Mereka gagap, akhirnya mereka mencari tempat yang sama dengan dirinya, di luar GKI.
f.        Anti Keragaman
Bahaya dari hal ini adalah adanya sikap anti keragaman karena mereka tidak siap dengan yang berbeda. Hal ini menciptakan fanatisme. Bukankah anggota GKI, tidak jarang, bersikap gagap dengan agama lain dan gereja lain? Bahkan perayaan natal pun harus per komisi? Bahkan gagap rasa dan hanya kognitif oriented, bukan?
g.       Apalagi? Mari berdiskusi!

Corak Spiritualitas

Salah satu teori corak spiritualitas digagas oleh Gary Thomas.
a.       Naturalis: yang menemukan Tuhan melalui ciptaan-Nya.
b.      Indrawi: yang menemukan Tuhan melalui indra yang dimilikinya
c.       Tradisionalis: yang menemukan Tuhan ritual yang konstan dan tetap
d.      Askese: yang menemukan Tuhan melalui kesendirian (menarik diri)
e.      Aktivis: yang menemukan Tuhan melalui tindakan pembelaan bagi yang tertindas
f.        Pemerhati: yang menemukan Tuhan melalui kepedulian pada mereka yang berkekurangan
g.       Antusias: yang menemukan Tuhan melalui ibadah yang bersemangat
h.      Kontemplatif: yang menemukan Tuhan melalui keheningan dan refleksi
i.         Intelektual: yang menemukan Tuhan melalui pengetahuan.

Apakah kita akan membagi kategori ke kategori lain? Atau menambahkan kategori usia yang sudah ada dengan kategori corak spiritualitas? Bila nanti ada pemetaan lain, apakah juga kita akan menambahkannya lagi? Obesitas Kegiatan tetapi sepi dampaklah yang akan kita tuai. Belum lagi sumber daya manusia dan dana yang dibutuhkan karena kategorisasi ini begitu banyak. Mungkin sudah waktunya kita melakukan manufer penataan pembinaan iman intergenerasional dan interspiritualitas di gereja kita. Senin sampai sabtu, orang tua anak sudah terpisah, apakah minggu gereja juga memisahkan? Perjumpaan dalam keberagaman akan menjadi pembelajaran yang kuat dan menarik untuk menciptakan penghargaan. Orang tua tidak lagi memasrahkan peran pembinaan iman hanya pada guru sekolah minggu atau pengajar remaja, melainkan bersama dengan gereja, mereka hadir bagi anak-anaknya. Demikian pula anak-anak hadir bagi orang tuanya. Sekedar melihat kembali ke masa lalu, gereja berkembang pesat bukan dalam pembinaan kategori. Persekutuan umat Tuhan, diawali dengan sebuah perjumpaan dan kebersamaan. Anak-anak duduk di sekeliling Yesus bersama orang tua. Yesus berkata, ‘Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku’, bukan?

Pan-Gesang, 27 Oktober 2018

Sadar Perubahan Zaman, Menyelamatkan Generasi Mendatang - Pdt. Andri Purnawan


PETA PERUBAHAN ZAMAN
Sampai tahun 1950, Indonesia masih berada di zaman yang oleh Alvin Tofler dinamakan era pertanian (ciri: kehidupan tergantung pada pertanian, pada musim, orang sempat tidur siang - dan tidur kapan saja dia mau, karena pekerjaan tidak banyak dan tempat kerja pun tidak jauh dari rumah). Pembagian peran laki-laki dan perempuan juga jelas. Laki-laki ke sawah, perempuan mengurus rumah, anak-anak, ternak ayam dan menumbuk padi di halaman. Hubungan antargenerasi tua-muda bersifat mewariskan. Artinya, pengalaman generasi terdahulu akan berlaku juga untuk generasi yang akan datang. Karena hampir tidak ada perubahan lingkungan, nasihat orang tua rata-rata pas saja buat anak.
Tetapi, pada saat Indonesia masih berada dalam era pertanian, bahkan di Irian masih ada yang hidup dalam zaman batu (kala itu-1950), di Eropa dan Amerika orang sudah hidup dalam era industri di mana segala sesuatu bergantung pada mesin. Sebagian tenaga orang digantikan oleh tenaga mesin. Orang dipacu bekerja sesuai dengan irama mesin. Orang sudah mengenal pembagian jam kerja dan pembagian kerja. Pendidikan makin maju, termasuk pendidikan untuk wanita. Karena itu, pembagian kerja pria-wanita pun berubah. Wanita bisa juga bekerja di pabrik. Bahkan wanita pun bisa menjadi bosnya laki-laki.
Perubahan dari era pertanian ke era industri ini di Eropa dan Amerika berjalan lebih dari 100 tahun. Itu sangat cepat jika dibandingkan dengan era pertanian yang reatif tidak berubah selama ribuan tahun. Karena perubahan cepat ini, di Eropa dan Amerika sudah terjadi beberapa revolusi sosial-politik. Mulai dari revolusi Prancis, di mana Ratu Maria Antoinette dipenggal kepalanya oleh massa rakyat, sampai revolusi anti-kaum borjuis di Rusia (yang melahirkan komunisme), sampai perang saudara di Amerika Serikat di mana Presiden Abraham Lincoln tewas di tangan penembak gelap.
GENERASI BUNGA
Di lingkungan keluarga dan masyarakat juga terjadi revolusi generasi muda. Anak-anak sudah tidak bisa dinasihati lagi oleh orang tuanya. Karena apa yang dinasihatkan itu sudah tidak cocok lagi dengan zamannya. Semua sudah berubah. Dulu belum ada TV, sekarang ada. Dulu belum ada telepon, sekarang ada. Pendidikan anak-anak pun sudah lebih tinggi daripada pendidikan orang tua. Bahkan, termasuk anak-anak perempuan. Maka, lahirlah "generasi bunga" Eropa dan AS (di sekitar tahun 1960) yang menyukai lagu-lagu rock, dan bersemboyan make love not war,
GENERASI X DI ERA INFORMASI/GLOBALISASI
Tetapi, ketika generasi bunga dari tahun 1960-an itu sendiri telah menjadi orang tua, mereka menghadapi anak-anak mereka yang lebih gawat lagi kelakuannya. Generasi tahun 1990-an diberi berbagai nama: generasi metal (karena menyukai berbagai musik metal), generasi hura-hura (karena malas, dan hidupnya mau senang melulu), atau generasi X (karena pola tujuan hidupnya tidak jelas dan doyan pil ecstasy).
Hal ini disebabkan oleh karena dunia sudah berubah lebih cepat lagi. Toffler menamakannya sebagai era informasi, sedangkan John Naisbitt menamakannya sebagai era globalisasi. Teknologi dan informasi sudah begitu canggihnya dan dapat tersebar ke seluruh pelosok dunia hanya dalam hitungan menit. Semua peristiwa di seluruh dunia akan diketahui di seluruh pelosok dunia pada hari yang sama. Bandingkan dulu: ketika Lincoln tewas di akhir abad lalu, orang Eropa baru mengetahuinya 14 hari kemudian. Apalagi ketika Columbus menemukan benua Amerika, Raja Spanyol (bosnya Columbus) baru mendapat beritanya 6 bulan kemudian.
Dunia sudah menjadi satu {global village), tak lagi terkotak-kotak menurut Negara/ daerah. Teknologi komunikasi makin canggih dan ringkas sehingga bisa mencapai hampir semua individu tanpa mengenal umur dan kelas sosial-budaya. Pemanfaatannya bisa positif ataupun negatif. Di sisi lain, perkembangan teknologi Biologi juga mengalami perkembangan pesat. Misalnya Keluarga Berencana (hubungan seks tanpa hamil), pengobatan infertilitas (hamil tanpa hubungan seks), pengobatan berbagai penyakit genetika, vitamin untuk memperpanjang usia, dsb. Itu semua berakibat bahwa manusia makin lama makin memegang kendaii terhadap nasibnya sendiri maupun lingkungannya. Dan, itu pasti berdampak pada spiritualitas manusia. Penghayatan relasi manusia dengan Tuhan secara sadar atau tidak pasti berubah. Lalu terjadi perubahan norma besar-besaran yang merembet ke berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk gaya berbusana, gaya berbicara, tata pergaulan, dan sebagainya.
GENERASI Y
Generasi Y merupakan lanjutan dari Generasi X, di mana anak-anak zaman sekarang makin canggih. Mereka hidup di era sinyal 3G (dari bahasa Inggris: third-generation technology). Akses cepat ke internet dengan bandwidth sampai 384 kilobit setiap detik ketika alat tersebut berada pada kondisi diam atau bergerak secepat pejalan kaki, bahkan HSDPA {High-Speed Downlink Packet Access yang bisa 5x lebih cepat dari 3G) dan HSUPA {High-Speed Uplink Packet Access). Anak-anak sudah kenal dan malah tak asing dengan telepon, handphone, komputer, laptop, menjelajah dunia maya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi sekarang sedang marak komputer tablet dengan berbagai ukuran dan variasi kecanggihan. Sejak dini, mereka sudah mulai bergabung dengan beberapa social network (jejaring sosial, seperti facebook, twitter, Hi5, BBM group, dsb). Kecanggihan teknologi membuat anak - anak lebih mudah mengakses semua hal.
DAMPAK PERUBAHAN ERA'TERHADAP SPRITUALITAS ANAK DAN REMAJA
Hams diakui, teknologi menjadikan hidup manusia makin mudah, cepat dan tanpa batas. Manusia bisa menjadi pribadi mandiri dalam belajar. Sebab dengan mesin pencari (misalnya Google) orang bisa belajar banyak hal. Itulah sisi positifnya. Namun tak bisa diingkari pula, perkembangan sangat cepat ini telah menimbulkan suatu kejutan budaya bagi orang Indonesia. Dari perspektif spiritualitas, berikut hal-hal yang perlu kita waspadai:
  1. Individualisme Iman
    Di Jepang muncul fenomena Hikikomori, menunjuk pada orang-orang yang menjauhkan diri dari lingkungan sosial dengan mengurung diri di dalam kamar selama berbuan-bulan, bertahun-tahun bahkan ada sampai ada yang puluhan tahun. Hikikomori terjadi karena orang merasa tidak perlu lagi berelasi langsung dengan orang lain untuk bisa hidup. Manusia bukan lagi makhluk sosial, melainkan makhluk individual yang bisa hidup secara otonom. Celakanya, ini bisa berpengaruh pada penghayatan iman seseorang. Hubungan dengan Tuhan berubah menjadi ranah pribadi. Keselamatan menjadi ranah pribadi. Pola hidup beragama menjadi eksklusif. Dan, pada akhirnya, iman tak punya sumbangsih apa pun dalam mentransformasikan hidup bersama dalam masyarakat.
    Memang, sekarang, Alkitab dan interpretasinya bisa diakses dari mana saja. Renungan, artikel, sampai karya tulis teologi tak harus diakses melalui Gereja. Khotbah yang menarik dan berbobot ada di radio, internet, dsb. Tetapi, keluarga-keluarga Kristen punya masalah serius terkait dengan tiga tugas utama dari Allah, yakni bersekutu, bersaksi dan melayani.
  2. Information Overload
    Merupakan istilah yang dipopulerkan Toffler (1970, Future Shock), terminologi ini pertama kali diungkap Bertram Gross (1964) untuk menggambarkan bahwa seseorang setiap hari dibombardir informasi berlebih yang belum tentu kebenarannya sehingga bisa mengalami kejenuhan, kebingungan, bahkan kesesatan.
    Sadar atau tidak, melalui berbagai media informasi dari buku, radio, televisi, website, blog dan forum-forum diskusi lain, sekarang ini beredar banyak ajaran iman dan etika yang tak dapat dipertanggunjawabkan. Fundamentalisme, rasialisme, primordialisme, bertebaran di era kebebasan tanpa batas. Website-website yang berplatform Kristen (seperti forumkristen.com, in-christ-net, sarapanpagi.biblika, eklesia, jodohrohani.com, believer, dsb ) sekalipun, terkadang memuat ajaran yang saling bertolak belakang satu dengan lainnya. Yang lebih berbahaya lagi jika informasi-informasi rendah validitas tersebut menyerbu melalui broadcast message BBM, email, spam, advertisement website, status orang di Facebook ataupun twitter, dsb. Bayangkan betapa besar ancaman spritualitas yang dialami oleh generasi penerus kita.
  3. Peran Tuhan Tak Lagi Dirasa Bagi Kehidupan
    Manusia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan teknologi. Mereka yang menguasai teknologi berarti menguasai dunia. Asal ada uang orang bisa membeli teknologi. Jika sudah begitu semuanya seolah bisa dilakukan oleh manusia. Bahkan, sering, hidup mati seseorang pun seolah hanya ditentukan oleh selang, bukan oleh Tuhan. Dampaknya peran Tuhan tak lagi dirasa. Tuhan kurang dibutuhkan. Dan itu berarti setiap kehendak Tuhan siap diabaikan oleh manusia.
APA YANG HARUS DILAKUKAN?
  1. Memahami dan menerapkan "Teknologi dan Iman" sebagai persekutuan yang saling melengkapi. Albert Einstein menyatakan, "Faith without science is blind, and science without faith is cripple." Itu berarti bahwa baik teknologi maupun iman keduanya amat penting dan berguna dalam hidup ini. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Alkitab sendiri menyatakan bahwa kepada manusia Tuhan Allah memberikan mandat budaya dan mandat natural untuk menguasai alam ciptaan Tuhan dan menaklukkannya (Kejadian 1:27-28).Alkitab menyatakan kepada kita beberapa tuntunan yang jelas tentang Teknologi:
    1. Teknologi adalah Tugas. la adalah tugas yang diberikan Allah Pencipta langit dan bumi, jadi juga tugas yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Orang yang melakukan suatu penemuan, ia pun taat, dengan sadar atau pun tidak, kepada tugas yang dapat dibaca dari Kejadian 1 berbunyi, "Taklukkanlah bumi!" Dan, para pengguna penemuan-penemuan teknologi itu juga taat, dengan sadar atau pun tidak, kepada tugas itu.
    2. Teknologi dan Moral. Setiap orang percaya dapat menggali dan mempergunakan teknologi dengan taat dan bertanggung jawab kepada norma-norma Allah. Penyalahgunaan teknologi dapat ditahan oleh penggunaan teknologi secara positif sesuai dengan norma-norma Tuhan dan dengan perjuangan memberantas penyalahgunaan teknologi.
  2. Teknologi dan Iman diperkenalkan kepada anak-anak sedini mungkin, baik dalam keluarga, sekolah, lingkup pelayanan gereja atau di masyarakat luas, agar mereka melihat keduanya sebagai dua hal yang saling melengkapi. Orang tua sebisa mungkin mengikuti perkembangan yang ada agar bisa mendeteksi peta perubahan zaman dan mengenali kecenderungan-kecenderungan di dalamnya.
  3. Perlu diciptakan kondisi penyeimbang yang mempersiapkan generasi muda kita menjadi generasi bermental positif. Dengan cara:
    1. Menumbuhkan kesadaran sosial dan semangat hidup bersama (dengan membangun komunitas-komunitas positif di lingkungan keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat).
    2. Biarkan anak bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan, tetapi masih dalam batas wajar dan orang tua pun harus tetap mengawasi apa yang sebenarnya mereka lakukan di setiap harinya. Caranya: Tanyai atau ajak anak-anak untuk mengekspresikan atau menceritakan kejadian hari ini, entah di sekolah, di lingkungan sekitar bahkan di dunia maya. Buatlah anak-anak merasa nyaman dengan yang mereka ceritakan, bukan malah merasa sebaliknya. Dengan seperti itu, orang tua jadi lebih tahu dengan siapa saja mereka biasa bermain dan bergaul.
    3. Mencetak bahan-bahan literatur tentang tokoh-tokoh Kristen yang menjadi penemu-penemu dalam iptek seperti Sir Isaac Newton, Blaise Pascal, dsb.
    4. Berbagai bentuk pembinaan iman kepada siswa diisi materi yang seimbang antara iman dan iptek.
    5. Mendorong dan mendukung anak yang memiliki kemampuan intelektual yang baik untuk bisa terus belajar, baik berupa beasiswa maupun kemudahan lainnya.
    6. Memberlkan tuntunan moral Alkitabiah yang terus menerus agar ketika teknologi dikuasai dengan baik, itu tidak digunakan untuk kebanggaan diri dan bersifat destruktif, melainkan untuk memuliakan Tuhan dan bersifat konstruktif.
KESIMPULAN
Ketegangan antara iman dan teknologi itu kadang-kadang memang memberatkan orang-orang beriman. Akan tetapi, ketegangan ini sekaligus merupakan stimulans atau dorongan untuk memikirkan lebih mendalam lagi arti wahyu ilahi, yang bukan sekadar merupakan huruf-huruf mati, melainkan Sabda Allah yang hidup dan menghidupkan segala zaman. Dalam pembangunan modern, agama (baca: Kekristenan) diharapkan memainkan peranan positif. Sumbangan itu hanya mungkin bila setiap orang percaya dapat meninggalkan pandangan dunia (worldvieW), kebiasaan dan struktur sosiologis zaman dahulu yang tidak memadai lagi.
Hal ini bukan berarti meninggalkan iman, melainkan menghayati iman yang tetap sama dalam bentuk, perwujudan, cara-cara yang sesuai bagi manusia abad XXI. Jika Kekristenan berhasil menjalankan perannya itu, ia dapat memberi sumbangan yang sangat berharga: membina manusia yang bertanggung jawab secara etis dan karena itu mampu menggunakan hasil iptek sehingga semua manusia dapat hidup dengan lebih baik.
Surabaya, 26 April 2012 Pdt. Andri Purnawan
DAFTAR PUSTAKA
  1. Agama dan Ilmu-ilmu Pengetahuan, (saduran dari Wilkes, Keith. Religion and the Science), Yayasan Cipta Loka Caraka dan Yayasan Perguruan Tinggi Katolik, 1977.
  2. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1999.
  3. Carson, D.A. dan John D. Woodbridge (ed.), God And Culture, Jakarta: Momentum, 2002.
  4. Information Overload _ http://en.wikipedia.org/wiki/Information overload
  5. Sarwono, W. Sarlito, Psikologi Dalam Praktek, Jakarta : Restu Agung, 2005
  6. Schaeffer, Francis A. A Christian World View, Vol. 5: A Christian View of the West, Wheaton,Illinois: Crossway Books, 1993.
  7. Verkuyl, J. Etika Kristen: Kebudayaan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.